DJABARPOS.COM, Bandung – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Tatar Sunda dahulu memiliki tradisi khas yang sarat makna kebersamaan, yakni berbagi makanan menggunakan rantang kepada tetangga dan kerabat. Tradisi ini bukan sekadar mengantar hidangan, melainkan simbol silaturahmi, kepedulian sosial, serta rasa syukur dalam menyambut bulan penuh berkah.
Dalam kehidupan masyarakat Suku Sunda, kegiatan berbagi rantang biasanya dilakukan beberapa hari sebelum puasa dimulai. Setiap keluarga menyiapkan aneka hidangan rumahan seperti opor ayam, sayur lodeh, semur, hingga jajanan tradisional. Makanan tersebut disusun rapi dalam rantang bertingkat, lalu diantarkan dari rumah ke rumah sebagai bentuk berbagi rezeki dan mempererat hubungan antarwarga.
Tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan nilai-nilai sosial bagi generasi muda. Anak-anak dilibatkan untuk mengantar rantang ke tetangga sekitar, sehingga mereka belajar tentang gotong royong, sopan santun, serta pentingnya menjaga tali persaudaraan. Suasana kampung pun terasa lebih hangat karena setiap rumah yang menerima biasanya akan membalas dengan hidangan serupa.
Namun seiring perkembangan zaman, tradisi rantang jelang puasa perlahan memudar, terutama di wilayah perkotaan. Kesibukan masyarakat, perubahan pola hidup, hingga kebiasaan membeli makanan siap saji membuat budaya berbagi secara langsung semakin jarang dilakukan.
Meski demikian, sejumlah tokoh adat dan pegiat budaya berharap tradisi ini dapat dihidupkan kembali sebagai bagian dari kearifan lokal Sunda. Di tengah modernisasi, semangat berbagi dan menjaga silaturahmi tetap menjadi nilai luhur yang relevan untuk memperkuat kebersamaan masyarakat menjelang Ramadan. (Arsy)


