Kembangkan Sistem Pertanian Terpadu Yang Ramah Lingkungan di Sulawesi Tengah

DJABARPOS.COM, Sulawesi Tengah — Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat bekerja sama dengan PT Aimtopindo di Desa Cendanapura, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Rabu,(8/10) belum lama ini.

Dalam program ini, mereka memperkenalkan dan mengimplementasikan inovasi teknologi bioproses yang memadukan antara peternakan sebagai penghasil kotoran hewan dengan pertanian yang membutuhkan pupuk organik sehingga menjadi sirkular ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi petani.

Iklan Djabar Pos

Kegiatan yang berlangsung sejak dua tahun terakhir ini merupakan bagian dari misi mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi ITB khususnya Pengabdian Masyarakat ITB dengan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Aimtopindo Nuansa Kimia serta melibatkan PT. Pertamina EP Donggi Matindok Field. Dalam acara puncaknya, dilakukan panen raya padi bersama warga, yang menggunakan pupuk hasil teknologi tersebut.

Turut hadir dalam kegiatan ini Muspika Kecamatan Toili, jajaran Koramil dan Polsek, perwakilan Pertamina EP, perwakilan dari kelompok tani dan tokoh masyarakat ,perwakilan pemerintahan setempat, serta akademisi dari ITB dan perwakilan dari PT Aimtopindo.

Teknologi Pupuk Organik : Dari Limbah Peternakan Menjadi Solusi Pertanian Berkelanjutan

Menurut Dr. Ir. Tri Partono Adhi, dosen Teknik Kimia ITB sekaligus ketua tim Program Pengabdian Masyarakat ini, teknologi yang dikembangkan merupakan bagian dari Integrated Farming System atau sistem pertanian terpadu. Teknologi ini menggunakan bioproses untuk mengubah limbah peternakan menjadi pupuk organik sekaligus memanfaatkan residu pertanian menjadi pakan ternak.

“Prosesnya dimulai dari pembuatan contoh kandang komunal untuk menghimpun sapi-sapi yang saat ini tersebar. Kami membangun sistem kandang terintegrasi sehingga limbah dapat dikumpulkan, lalu diproses menggunakan mikroba untuk diubah menjadi pupuk yang lebih efektif dan efisien,” ujar Dr. Tri.

Pupuk dari proses ini yang dipadukan dengan biosulfur yang dihasilkan dari proses pemurnian gas di Central Processing Plant (CPP) Pertamina Donggi-Matindok Field telah terbukti dapat menjadi solusi alternatif ketika terjadi kelangkaan pupuk sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan.

Mengapa Sulawesi Tengah?

Pemilihan lokasi di Luwuk, Sulawesi Tengah, bukan tanpa alasan. ITB menilai daerah ini memiliki lahan pertanian yang luas dan masyarakat yang dominan menggantungkan hidup dari pertanian dan peternakan, memiliki potensi menjadi area implementasi teknologi baru yang berkelanjutan dan diharapkan menghasilkan dampak yang signifikan

“Kami melihat potensi luar biasa di daerah ini. Dengan teknologi sederhana dan tepat guna, masyarakat bisa meningkatkan efisiensi biaya pertanian, pendapatan, hingga kualitas hidup,” tambah Dr. Tri.

PT Aimtopindo: Peran Inkubator dan Sponsor Inovasi

Setyo Yanus Sasongko, Direktur Utama PT Aimtopindo, menjelaskan bahwa perusahaan swasta tidak hanya berperan sebagai mitra, tetapi juga sebagai inkubator dan sponsor dalam pengembangan dan implementasi teknologi ini.

“Sinergi antara akademisi dan sektor swasta sangat penting. ITB membawa inovasi, kami dari swasta yang mengimplementasikan di lapangan. Dari hasilnya, kami kembali memberi masukan agar ITB terus mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

PT Aimtopindo berpendapat bahwa implementasi dalam skala kecil yang saat ini dikerjakan dapat menjadi contoh nyata bagi petani dalam menerima inovasi teknologi baru, mempelajari serta ikut memanfaatkan.

Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat Lokal

Program ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian padi, tetapi juga membuka peluang untuk implementasi disektor yang baru seperti budidaya jamur dan pengembangan sayur-mayur untuk memasok Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bisa dilaksanakan oleh para ibu. Menurut Kadek Suardika, Kepala Desa Pandanwangi, program ini telah membuka mata warganya untuk mengelola potensi lokal dengan lebih produktif dan meningkatkan perekonomian lokal.

“Kami berterima kasih kepada ITB dan PT Aimtopindo. Dengan adanya pendampingan ini, kami bisa memanfaatkan limbah ternak menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Semoga ini bisa membuka pola bisnis baru bagi masyarakat kami,” ujarnya.

Potensi Energi Terbarukan: Dari Biogas Menjadi Energi

Selain pupuk, hasil dari pengolahan kohe juga menghasilkan biogas yang potensial sebagai sumber energi alternatif. Biogas ini ke depannya akan dikembangkan untuk menjadi sumber energi rumah tangga dan berpotensi menjadi listrik bagi desa-desa terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik nasional.

“Kami sedang meneliti lebih lanjut bersama ITB, bagaimana biogas ini bisa dikonversi menjadi listrik untuk desa-desa terpencil. Ini bagian dari solusi energi mandiri di wilayah pelosok,” tambah Setyo Yanus.

Menuju Ketahanan Pangan dan Kemandirian Energi Nasional

Kolaborasi ITB dan PT Aimtopindo menunjukkan bahwa inovasi teknologi sederhana dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat desa. Dari pengolahan limbah peternakan menjadi pupuk, hingga energi terbarukan, program ini menjadi model ideal untuk mendukung ketahanan pangan, kemandirian energi, dan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Program ini juga menjadi cerminan sinergi tiga pilar penting pengembangan teknologi tepat guna: inovator (akademisi), inkubator (implementator), dan sponsor (fasilitator/pemerintah atau swasta). Ketiganya perlu bergerak bersama agar teknologi tersebut benar-benar bisa diadopsi secara luas dan berkelanjutan.

Penutup: Ajak Pemerintah dan Industri Lebih Terlibat

Baik pihak ITB maupun PT Aimtopindo berharap dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah dalam bentuk payung hukum, pendanaan bagi masyarakat, serta integrasi dalam program pembangunan daerah agar program serupa bisa direplikasi di daerah lain di Indonesia.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami bagian dari masyarakat. Tapi dengan dukungan semua pihak, kita bisa mendorong perubahan besar dimulai dari desa,” tutup Dr. Tri Partono Adhi.(Arsy)

Iklan Djabar Pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *