Di Ambang Perang Dunia? Analisis Mayjen Tatang: Konflik Timur Tengah Bisa Picu Krisis Global, Indone






DJABARPOS.COM, Jakarta – Dunia dinilai sedang bergerak menuju titik paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Eskalasi konflik di Timur Tengah bukan lagi sekadar perang regional, melainkan berpotensi menjadi pemicu krisis global yang berdampak hingga ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Mayor Jenderal TNI (Purn.) H. Tatang Zaenudin saat menerima tim NasionalNews di kediamannya di Komplek Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (1/4/2026).

Dalam suasana santai namun penuh kehati-hatian, Tatang menyebut dunia kini berada di “ambang badai besar” yang bisa mengubah peta kekuatan global.

“Ini bukan lagi konflik biasa. Kita sedang melihat akumulasi konflik panjang yang mencapai titik kritis,” tegasnya.

Dominasi Amerika Mulai Goyah, Dunia Masuk Era Baru

Menurut Tatang, upaya Amerika Serikat membangun koalisi global tidak sepenuhnya mendapat dukungan.

Aliansi tradisional seperti NATO dan Jepang memang masih solid, namun negara besar seperti Rusia, China, hingga Korea Utara tidak sepenuhnya sejalan.

“Ini tanda bahwa dominasi satu kekuatan global mulai memudar. Dunia bergerak ke arah multipolar,” ujarnya.

Dalam tatanan dunia baru ini, setiap negara memiliki kepentingan sendiri, sehingga konflik menjadi lebih kompleks dan sulit dikendalikan.

Iran Dinilai Solid, Jadi Kunci Keseimbangan

Tatang menyoroti Iran sebagai salah satu aktor yang menunjukkan stabilitas internal kuat di tengah tekanan global.

Ia mencontohkan transisi kepemimpinan yang berjalan cepat tanpa gejolak sebagai indikator kekuatan negara tersebut.

“Dalam kondisi tekanan eksternal, stabilitas internal seperti itu menjadi kekuatan utama,” katanya.

Faktor ideologi, nasionalisme, dan pengalaman panjang menghadapi sanksi membuat rakyat Iran dinilai tidak mudah goyah.

Diamnya Negara Arab: Strategi, Bukan Kelemahan

Menariknya, negara-negara Timur Tengah yang memiliki pangkalan militer Amerika tidak memberikan respons terbuka terhadap Iran.

Menurut Tatang, hal itu bukan tanda kelemahan, melainkan strategi bertahan.

“Mereka terjebak di antara kepentingan militer dan tekanan opini publik. Jadi memilih diam,” jelasnya.

Ancaman Nyata: Selat Hormuz dan Krisis Energi Dunia

Salah satu titik paling rawan adalah Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.

Jika Iran benar-benar membatasi atau menutup akses, dampaknya bisa sangat besar.

“Itu bisa jadi guncangan global, bahkan lebih besar dari pandemi. Energi adalah urat nadi ekonomi dunia,” tegas Tatang.

Dampaknya sudah mulai terasa di sejumlah negara Asia, dengan kenaikan harga energi dan gangguan distribusi.

Indonesia Tidak Kebal, Harga Bisa Melonjak

Tatang mengingatkan bahwa Indonesia tidak akan luput dari dampak konflik tersebut.

Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi dan memicu tekanan ekonomi dalam negeri.

“Harga kebutuhan pokok bisa naik. Kalau tidak dikelola, ini bisa berujung instabilitas sosial,” ujarnya.

Ia bahkan mengingatkan potensi krisis seperti tahun 1998 jika kondisi memburuk.

Solusi: Kembali ke Politik Nonblok

Dalam menghadapi situasi global yang memanas, Tatang menilai Indonesia harus kembali pada prinsip politik luar negeri nonblok.

“Jangan condong ke kekuatan mana pun. Netralitas adalah kekuatan kita,” katanya.

Indonesia juga dinilai bisa berperan sebagai jembatan diplomasi, namun tidak boleh terlalu dalam terlibat.

Peluang Perang Dunia Terbuka

Tatang tidak menutup kemungkinan konflik ini berkembang menjadi perang skala global.

“Peluangnya ada, terutama jika kekuatan besar terlibat langsung,” ujarnya.

Ia menambahkan, tekanan politik di Amerika Serikat juga bisa mempercepat dinamika konflik.

Pesan Keras: Tidak Ada Pemenang dalam Perang Ini

Di akhir perbincangan, Tatang menegaskan bahwa perang tidak akan menghasilkan pemenang sejati.

“Semua akan rugi. Dunia harus kembali ke rasionalitas dan menahan diri,” tegasnya.

Indonesia di Persimpangan

Konflik Timur Tengah mungkin terasa jauh, namun dampaknya sudah mulai terasa.

Mulai dari harga energi, stabilitas ekonomi, hingga potensi gesekan sosial.

Dalam situasi ini, Indonesia dihadapkan pada pilihan besar: ikut terseret arus konflik global atau berdiri sebagai penyeimbang.

Satu hal yang pasti di tengah dunia yang semakin panas, kemampuan untuk menahan diri justru menjadi kekuatan paling langka. (Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *