Oleh : Roni Maulana Arsy
Dalam sejarah panjang Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Umar Wirahadikusumah tercatat sebagai satu-satunya tokoh asal Sunda (Jawa Barat) yang pernah menduduki jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia. Ia menjabat sebagai Wakil Presiden ke-4 RI pada periode 1983–1988, mendampingi Presiden Soeharto di masa Orde Baru.
Fakta ini menempatkan Umar Wirahadikusumah sebagai figur penting, bukan hanya dalam sejarah nasional, tetapi juga dalam memori kolektif masyarakat Sunda yang relatif minim terwakili di puncak kepemimpinan nasional.
Latar Belakang dan Pendidikan
Umar Wirahadikusumah lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada 10 Oktober 1924. Ia berasal dari lingkungan Sunda yang kental dengan nilai kesederhanaan, disiplin, dan etika sosial. Pendidikan militernya ditempuh sejak masa awal kemerdekaan, dan ia dikenal sebagai perwira yang memiliki integritas serta loyalitas tinggi terhadap negara.
Karier Militer
Karier Umar Wirahadikusumah berkembang pesat di tubuh TNI Angkatan Darat. Ia pernah menjabat sejumlah posisi strategis, di antaranya :
• Panglima Kodam
• Panglima Kostrad
• Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
• Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup
Puncak karier militernya adalah ketika ia dipercaya menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pangab) sebelum akhirnya memasuki ranah kepemimpinan nasional sebagai Wakil Presiden.
Menjadi Wakil Presiden RI
Pada tahun 1983, Umar Wirahadikusumah dilantik sebagai Wakil Presiden RI ke-4. Di era tersebut, peran Wakil Presiden lebih bersifat penopang stabilitas pemerintahan, khususnya dalam menjaga soliditas militer dan birokrasi negara.
Umar dikenal sebagai sosok low profile, tidak banyak tampil di ruang publik, namun memiliki pengaruh kuat dalam pengambilan keputusan strategis, terutama yang berkaitan dengan keamanan nasional dan tata kelola pemerintahan.
Citra Pribadi dan Warisan Kepemimpinan
Berbeda dengan banyak pejabat di zamannya, Umar Wirahadikusumah dikenang sebagai figur yang bersih, sederhana, dan menjunjung tinggi etika jabatan. Ia kerap dipandang sebagai representasi nilai-nilai Sunda: someah, rendah hati, dan mengedepankan harmoni sosial. Hingga wafatnya pada 21 Maret 2003, Umar tetap dihormati sebagai negarawan yang menjalankan kekuasaan tanpa meninggalkan kesan kontroversial.
Makna Historis bagi Jawa Barat
Keberadaan Umar Wirahadikusumah sebagai Wakil Presiden RI menjadi simbol bahwa putra Sunda mampu menembus lingkar elite kekuasaan nasional. Namun hingga kini, belum ada tokoh lain dari Jawa Barat yang kembali menduduki posisi Wakil Presiden RI.
Hal ini kerap menjadi refleksi bahwa representasi politik daerah, termasuk Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, belum sepenuhnya sebanding dengan kontribusinya bagi bangsa.
Umar Wirahadikusumah bukan sekadar Wakil Presiden RI, melainkan penanda sejarah bagi masyarakat Sunda. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus lantang dan populis, tetapi dapat dijalankan melalui keteguhan prinsip, integritas, dan pengabdian senyap kepada negara.
Semoga ke depan, akan lahir kembali putra-putri Sunda yang tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi mampu tampil memimpin Indonesia dengan integritas, kebijaksanaan, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat.

