DJABARPOS.COM, Bandung – Keputusan besar PT Dirgantara Indonesia. PTDI resmi pindah pabrik pesawat ke Kertajati, Majalengka.
Bukan karena melupakan Bandung. Tapi karena alasan teknis yang gak bisa ditawar: Runway Husein Sastranegara cuma 2.400 meter.
Sedangkan untuk uji terbang perdana pesawat baru butuh landasan minimal 3 kilometer demi standar keselamatan.
Tanda Tangan MoU – 15 Juli 2026
Di Jakarta, Dirut PTDI Gita Amperiawan & Plt Dirut PT BIJB Ronald H. Sinaga teken MoU Pengembangan Kawasan Sisi Barat Bandara Kertajati. Disaksikan Menko AHY, Wamenhub Suntana, Bupati Majalengka Eman Suherman.
Apa yang dipindah ke Kertajati?
Di atas lahan 150-200 Ha, Kertajati akan jadi Aerospace Industrial Zone nasional:
1. Manufaktur Pesawat
2. MRO – Perawatan & Perbaikan
3. Aerostructure – Komponen struktural
4. Engineering Services
Tahap 1: Flight Test sudah mulai bulan ini.
Berikutnya: MRO, lalu lini produksi bertahap.
Bandung gak ditinggal. Fungsinya naik kelas jadi pusat riset, desain, inovasi & SDM.
Singkatnya: Bandung jadi Otak, Kertajati jadi Ototnya.
Kenapa harus Kertajati?
1. Runway Panjang – Aman untuk uji terbang
2. Logistik Lancar – Tol Cisumdawu, Cipali, dekat Pelabuhan Patimban. Ekspor komponen Airbus & Boeing gak perlu transit Jakarta lagi. “Langsung ke end-user” kata Gita.
3. Pesanan Menumpuk – Pemerintah order 80 CN235 + 30 N219 = 110 unit. Butuh pabrik luas. Target fleet readiness TNI: Oktober 2026.
Selama ini Kertajati sering ditanya “sepinya penumpang”. Kini jawabannya datang: Jadi rumah industri kedirgantaraan Indonesia.
Langkah strategis untuk kemandirian alutsista dan ekspor dirgantara.(Nino/Ade Suhendi)

