DJABARPOS.COM, Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertolak ke Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana.
Seluruh aktivitasnya selama di NTT diunggah di akun @dedimulyadi71. Mulai dari menyerahkan bantuan, menyapa warga, sampai dokumentasi kegiatan.
Menanggapi hal itu, Pengamat politik yang juga menjabat Direktur Eksekutif Politik Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurniansyah menilai langkah tersebut punya 2 sisi.
“Memberi bantuan itu baik. Yang buruk adalah muatan pencitraan dan hal yang kurang perlu,” ujarnya, Sabtu 22 Agustus 2026.
Dedi Kurniansyah menyorot efisiensi. Menurutnya, kehadiran langsung dengan tim besar membuat biaya jadi besar. “Jika tidak hadir langsung, Dedi Mulyadi kehilangan momentum membangun citra populis, terlebih ia juga merangkap sebagai kreator media sosial,” katanya.
Ia juga menyebut ini “sindrom selebritas”. “Dedi Mulyadi sedang alami sindrom selebritis, haus pujian dan simpati publik,” ucapnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan PR di rumah. “Tingkat kemiskinan masyarakat Jabar juga masih tinggi, tetapi Dedi Mulyadi kurang tertarik karena mungkin punya orientasi politik yang lebih besar,” lanjut dia.
Bantuan antar daerah memang bagian dari solidaritas. Tapi publik juga berhak bertanya: ukurannya apa? Apakah karena empati murni, atau karena butuh konten dan panggung politik.
Pemimpin boleh tampil. Tapi jangan sampai urusan rumah sendiri tertunda demi mengejar sorotan di luar.
Bantu boleh. Pamer boleh. Tapi rakyat Jabar juga menunggu bukti nyata di daerahnya.
Menurutmu, batas wajar pemimpin bantu daerah lain sambil tetap fokus urus daerah sendiri itu seperti apa? (Nino/ErHaz)

