DJABARPOS.COM, Garut – Miris. Di tengah gempuran digitalisasi pendidikan, masih ada anak bangsa yang harus belajar di bawah atap yang diganjal bambu.
Itulah potret SDN 1 Panggalih, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Deretan batang bambu menyangga langit-langit dua ruang kelas. Bukan untuk dekorasi, tapi penyangga darurat agar bangunan tak roboh.
Kerusakan sudah terjadi sejak 2024. Dinding retak, sebagian mengelupas hingga kelihatan batu bata. Kondisinya paling parah di ruang kelas 1 dan 2.
“Kami takut bangunannya ambruk saat anak-anak sedang belajar,” ujar Kepala SDN 1 Panggalih, Ening Dianingsih, Selasa (8/9/2026).
Kecemasan guru makin menjadi saat hujan deras dan angin kencang datang. Apalagi saat gempa. Guru Ai Sri Inggit mengaku sering memindahkan siswa ke ruang lain demi keselamatan. Meski begitu, semangat belajar anak-anak tak padam.
Pihak sekolah sudah mengajukan permohonan ke Dinas Pendidikan lewat korwas kecamatan. Petugas Disdik Garut juga sudah meninjau dan menjanjikan renovasi 2026. Tapi hingga September 2026, janji itu belum terealisasi.
Pihaknya sekolah berharap:
1. Pemkab Garut dan Disdik segera realisasikan renovasi. Jangan tunggu korban.
2. Prioritaskan kelas 1 dan 2 yang paling rawan.
3. Pastikan anggaran pendidikan benar-benar menyentuh sekolah pelosok.
Anak-anak berhak belajar dengan aman. Bambu bukan solusi, tapi tanda negara harus hadir.
(Doni/Agus Sambas)

