DJABARPOS.COM, Jakarta – Ada momen yang diam-diam menyentuh hati di tengah pergantian Menteri Keuangan.
Dengan nada kalem, Purbaya Yudhi Sadewa membuka kata: “Bapak dan Ibu, bagi saya hari ini adalah momen penting…”
Sejenak jeda. Semua menunggu pidato panjang perpisahan.
Tapi Purbaya yang khas itu kembali. Tidak berbasa-basi.
“Tidak usah saya pikir kepanjangan ini… Jadi kalau waktu itu saya datang, boleh lah bahasanya ngomong panjang, karena untuk menciptakan optimisme.
Kalau sekarang kan saya akan serahkan kepada Pak Suahasil aja ke depan, ya… Jadi saya hanya ngomong pendek aja. Terima kasih semua atas kerja sama selama 1 tahun terakhir ini. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Singkat. Tenang. Tidak ada drama.
Padahal, mungkin ada banyak hal yang ingin ia sampaikan. Tentang pertumbuhan 5,61%, tentang defisit yang dijaga, tentang Rp120 triliun Danantara yang sempat ia buka ke publik. Tapi ia memilih tidak semuanya harus diucapkan.
Dari Purbaya kita belajar: ada kalanya cukup mengucapkan terima kasih saja. Di jabatan publik yang penuh sorot mata, sikap tenang saat berpisah justru menunjukkan kedewasaan.
Terlepas dari pro dan kontra selama setahun menjabat, banyak warganet menghargai caranya pamit. Tidak menyerang, tidak mengeluh, tidak membenarkan diri.
Kepemimpinan bukan cuma soal angka di APBN. Tapi juga soal bagaimana seseorang meninggalkan panggung. Dan Purbaya kemarin memilih pergi dengan kepala tegak dan hati lapang.
Selamat melanjutkan pengabdian, Pak. Terima kasih.(**)

