Ketika Kapolri Jadi Khatib: Amanah, Bukan Mahkota

DJABARPOS.COM – Baru kali ini saya membaca berita Kapolri menjadi khatib salat Jumat. Dialah Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Biasanya Kapolri berdiri di podium konferensi pers, kali ini naik mimbar masjid. Bedanya, wartawan biasa menodong pertanyaan, sedangkan jamaah mendengarkan nasihat. Namun ada satu pertanyaan penting: setelah turun dari mimbar, apakah nasihat ikut turun ke lapangan?

Jumat, 9 Oktober 2026, di Masjid Al-Ikhlas Mabes Polri, Suyudi mengingatkan anggota agar menjauhi kesombongan. Jabatan, pangkat, kekuasaan, dan harta bukan alasan merasa lebih tinggi dari orang lain. Semuanya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Nasihat kelas berat. Kalau benar-benar diamalkan, bukan cuma kepala yang menunduk, ego pun bisa disuruh tiarap. Pangkat jenderal bukan tiket VIP menuju surga. Seragam bukan jubah sakti antikritik.

Dalam Islam, kesombongan bukan penyakit ringan. Rasulullah SAW memperingatkan bahayanya, termasuk menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Al-Qur’an pun mengingatkan lewat Surah Ash-Shaff ayat 2-3: “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”

Ayat ini cocok dipasang di kantor, ruang rapat, di depan cermin. Biar setiap kali pejabat merapikan dasi, ia sekaligus merapikan hati.

Tentu, menjadi khatib tidak otomatis membuat seseorang berintegritas sempurna. Fikih membedakan keabsahan khutbah dari penilaian moral khatib. Keteladanan tetap dinilai dari rekam jejak, kejujuran, dan perbuatan. Mimbar bukan sertifikat otomatis menjadi manusia tanpa cela.

Karena itu, kita patut mengapresiasi pesan Suyudi tanpa buru-buru mengangkatnya menjadi wali berjubah seragam. Ujian sesungguhnya adalah membuktikan bahwa nasihat tersebut bukan suara merdu yang menguap setelah salam penutup.

Bayangkan kalau polisi benar-benar rendah hati, jujur, dan adil. Pengaduan masyarakat didengar, korban memperoleh keadilan, kritik tidak dianggap serangan pribadi, dan hukum tidak mendadak masuk angin ketika berhadapan dengan orang berpengaruh.

Suyudi juga membawa pesan perubahan melalui tagline “Polisi Bersama Masyarakat”, menggantikan slogan “Presisi” era Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Arahnya, polisi hadir untuk mendengar, melayani, melindungi, dan bekerja bersama masyarakat.

Bagus. Namun jangan sampai slogannya berganti, perilakunya masih memakai seragam edisi lama. Spanduk boleh baru, desain boleh kinclong, tetapi kalau pelayanan tidak berubah, itu renovasi kalimat, bukan renovasi karakter.

Ini bukan vonis bahwa kepemimpinan Suyudi gagal. Justru ini harapan agar pesan mimbar menjadi kenyataan. Kepercayaan publik tidak dibangun dengan mengganti slogan setiap pergantian pimpinan, melainkan melalui tindakan yang konsisten.

Pada akhirnya, jabatan adalah amanah, bukan mahkota. Pangkat adalah tanggung jawab, bukan alat membusungkan dada.

Kapolri boleh menjadi khatib, tetapi ujian sesungguhnya dimulai setelah turun dari mimbar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *