DJABARPOS.COM, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah daerah di Indonesia pada Jumat (5/8).

Menurut informasi yang dihimpun dari laman resmi BMKG di Jakarta, Jumat, cuaca tersebut diprakirakan terjadi di Aceh, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat.

Cuaca serupa juga berpotensi melanda di Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sementara wilayah yang berpotensi hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang adalah Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kepulauan Riau. Sedangkan Jawa Timur berpotensi mengalami angin kencang.

BMKG juga memberikan peringatan gelombang tinggi 4-6 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia Barat Aceh, Perairan Barat Aceh, Perairan Utara Pulau Sabang, Perairan Pulau Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, dan Selat Sumba bagian Barat.

Gelombang tinggi itu juga berpotensi terjadi di Perairan Selatan Banten hingga Jawa Timur, Perairan Selatan Bali hingga Sumba, Samudra Hindia Barat Lampung, Samudra Hindia Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, Selat Bali-Lombok-Alas bagian Selatan. BMKG mengimbau masyarakat dan bidang pelayaran untuk memperhatikan peringatan gelombang tinggi tersebut.

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut potensi bencana hidrometeorologi meningkat pada bulan Juli hingga September 2022.

“Potensi bencana juga semakin meningkat pada periode Juli, Agustus dan mungkin awal September nanti kita akan ada pergeseran, di mana pada waktu yang bersamaan kita akan mengalami baik itu hidrometeorologi basah, banjir banjir bandang tanah longsor, sekaligus juga hidrometeorologi kering, kebakaran hutan dan kekeringan,” ujar Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam disaster briefing daring diikuti di Jakarta, Senin.

Potensi tersebut, kata Abdul, sudah mulai terlihat dari dari data BNPB pada 18-24 Juli 2022. Dia menjelaskan jika di minggu sebelumnya frekuensi banjir masih lebih besar daripada kebakaran hutan kekeringan, justru di minggu ini mulai bergeser dengan frekuensi kejadian kebakaran hutan lebih sering daripada banjir.

Masyarakat diminta tetap siaga dan waspada di daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan, juga pada daerah-daerah yang rawan banjir.

BNPB secara frekuentatif atau secara berkala mengirimkan pesan-pesan kesiapsiagaan peringatan dini dan upaya-upaya mitigasi yang harus dilakukan kepada pemerintah daerah.

Namun Abdul mengatakan hal yang paling penting sebenarnya adalah kesiapsiagaan masyarakat. Misalnya pada masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai, atau masyarakat yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang dekat dengan tebing dengan kecuraman yang tinggi.(Agus Ridwan)