Analisis: Amerika Hadapi Tekanan Non-Konvensional dari Iran, Indonesia Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

DJABARPOS.COM, Kota Bandung – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan di tengah dinamika geopolitik global. Di balik potensi konflik terbuka, sejumlah pengamat menilai terdapat pola tekanan non-konvensional yang berkembang dan berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuatan global.

Mayjen TNI (Purn.) Fulad, mantan Penasihat Militer Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York periode 2017–2019, menilai bahwa pola konflik modern telah mengalami pergeseran signifikan. Menurut dia, Iran tidak menghadapi Amerika Serikat secara langsung, melainkan menerapkan strategi berlapis yang dapat mengurangi efektivitas kekuatan militer konvensional.

“Iran membangun pendekatan yang tidak langsung, sehingga medan konflik tidak lagi didominasi oleh kekuatan militer konvensional,” ujar Fulad.

Ia menjelaskan, salah satu aspek strategis terletak pada posisi Iran di sekitar Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut, meski dalam skala terbatas, dinilai dapat berdampak pada stabilitas harga minyak dunia dan memengaruhi ekonomi global.

Selain itu, Fulad menyoroti potensi kerentanan pada infrastruktur vital, termasuk fasilitas desalinasi di negara-negara Teluk yang menjadi sumber utama air bersih. Menurut dia, ketergantungan tinggi terhadap fasilitas tersebut dapat menjadi titik lemah dalam situasi konflik.

Di sisi lain, Iran juga dinilai mengembangkan pendekatan pertahanan yang tersebar atau mosaic defense, dengan memanfaatkan teknologi berbiaya relatif rendah seperti drone untuk menghadapi sistem pertahanan berteknologi tinggi.

Fulad menambahkan, dinamika konflik turut dipengaruhi oleh keberadaan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran di sejumlah kawasan, seperti Lebanon, Yaman, dan Irak. Keberadaan jaringan tersebut dinilai dapat memperluas spektrum konflik tanpa keterlibatan langsung secara terbuka.

Dalam konteks global, ia juga melihat adanya upaya pembentukan narasi di ruang internasional yang dapat memengaruhi persepsi terhadap konflik yang berlangsung.

“Perang saat ini tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga mencakup aspek energi, ekonomi, infrastruktur, dan opini publik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menilai bahwa perkembangan tersebut menjadi penting untuk dipahami dalam konteks ketahanan nasional.

Menurut dia, bentuk ancaman saat ini tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ruang informasi dan persepsi publik.

“Apa yang disampaikan tersebut menunjukkan bahwa ancaman memiliki dimensi yang semakin kompleks, termasuk di bidang informasi,” ujar Hendra, Sabtu (4/4/2026).

Ia menekankan pentingnya literasi informasi di tengah arus digital yang cepat, guna mencegah penyebaran disinformasi yang berpotensi memengaruhi stabilitas.

Lebih lanjut, baik Fulad maupun Hendra menilai bahwa perubahan pola konflik global memberikan pelajaran strategis bagi Indonesia, khususnya dalam memperkuat ketahanan di berbagai sektor.

Beberapa aspek yang dinilai perlu mendapat perhatian antara lain ketahanan energi, ketersediaan air dan pangan, perlindungan infrastruktur vital, serta kesiapan menghadapi ancaman siber.

Dalam perkembangan tersebut, Indonesia dinilai perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh, seiring dengan perubahan karakter konflik global yang semakin kompleks dan multidimensi. (Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *