Tiga Guru Inspiratif Alumni UPI Buktikan Dedikasi, Literasi Jadi Fondasi Pendidikan

DJABARPOS.COM, Kota Bandung – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memberikan apresiasi kepada tiga guru berprestasi dan inspiratif yang dinilai konsisten mengabdi serta berkontribusi nyata dalam memperkuat budaya literasi di tengah berbagai keterbatasan dunia pendidikan.

Ketiga guru tersebut adalah Kusman, Lusijani, dan Budi. Mereka dipilih karena dedikasi, ketekunan, serta peran aktif dalam menumbuhkan minat baca dan kemampuan literasi di lingkungan sekolah.

Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., menegaskan bahwa ketiganya memiliki kesamaan visi dalam menjadikan literasi sebagai fondasi utama pendidikan.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kunci untuk meningkatkan kemampuan di bidang sains, matematika, dan bahasa. Ketiga guru ini menunjukkan konsistensi luar biasa dalam hal tersebut,” ujarnya.

Keteguhan di Tengah Keterbatasan

Sosok Lusijani, guru di SMA Plus Babusalam, menjadi potret nyata keteguhan seorang pendidik. Meski masih berstatus honorer dan belum menjadi ASN, ia tetap menjalankan tugas dengan penuh komitmen.

“Saya yakin rezeki pasti ada dari mana saja. Tidak ada halangan bagi saya untuk terus mengajar, karena ini adalah komitmen saya,” tuturnya.

Kisah Lusijani mencerminkan realitas banyak guru honorer di Indonesia yang tetap bertahan mengajar di tengah keterbatasan kesejahteraan dan ketidakpastian status.

Rendah Hati dalam Pengabdian

Kusman, guru SMKN 2 Cimahi, mengaku tidak menyangka dirinya terpilih sebagai penerima apresiasi. Ia menilai masih banyak guru lain yang lebih layak.

“Saya kaget, karena masih banyak yang lebih hebat dari saya. Terima kasih atas penghargaan ini,” katanya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa bagi seorang guru, pengabdian lebih utama daripada sekadar pengakuan.

Peran Guru sebagai Penggerak Literasi

Sementara itu, Budi, Kepala SMPN 1 Karangpawitan Garut, dikenal aktif sebagai penulis dan penggerak literasi di kalangan pendidik.

“Literasi adalah modal utama seorang guru,” tegasnya.

Ia juga pernah mengikuti seleksi calon kepala dinas pendidikan pada 2018 dan meraih peringkat pertama, menandakan kapasitasnya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pemimpin di bidang pendidikan.

Literasi Masih Jadi Tantangan Nasional

Rektor UPI, menyoroti bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu diperkuat. Rendahnya tingkat literasi berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran di berbagai bidang.

Sebagai langkah konkret, ia mendorong pembiasaan membaca sejak dini, termasuk penerapan waktu membaca minimal 30 menit setiap hari dengan bahan bacaan yang sesuai minat dan kemampuan siswa.

Sebagai bentuk komitmen, UPI membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan para alumni. Program tersebut mencakup akses laboratorium kampus, riset bersama dosen, hingga pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi berbagai tantangan pendidikan di lapangan.

Prof Didi Sukyadi, menambahkan, pemberian apresiasi ini merupakan yang pertama kali dilakukan dan akan menjadi agenda rutin ke depan.

Dari Ruang Kelas, Masa Depan Dibentuk

Di tengah berbagai keterbatasan, ketiga guru ini membuktikan bahwa dedikasi tidak ditentukan oleh status maupun fasilitas.

Mereka tetap berdiri di depan kelas, mengajar dengan ketulusan, menanamkan nilai, dan membangun harapan.

Dari ruang-ruang kelas sederhana, peran besar itu terus dijalankan membentuk generasi masa depan Indonesia, satu pelajaran dalam satu waktu. (Arsy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *