Darurat Sampah, DPRD Minta Fokus Pilah dari Hulu dan Sentil Beban Baru MBG 

DJABARPOS.COM, Bandung – Pengelolaan sampah Kota Bandung dinilai tidak cukup hanya andalkan teknologi di hilir. Perubahan kebiasaan pilah sampah dari hulu jadi kunci agar sampah tidak terus menumpuk.

Anggota Pansus 16 DPRD Kota Bandung Drs. Heri Hermawan mengatakan pihaknya belajar dari studi banding, termasuk rencana fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Jakarta dan sistem di Bali.

“Kami melakukan studi banding ke Rorotan, DKI Jakarta. Di sana kami belajar tentang RDF. Itu bagus, tapi itu bukan skala kota, melainkan regional, minimal Bandung Raya karena skalanya besar,” kata Heri, Senin 15 September 2026.

Menurutnya kapasitas RDF Jakarta besar, perlu dipikirkan skala kawasan, bukan hanya beban Kota Bandung.

Dari Bali, pelajaran terpenting adalah membangun kebiasaan masyarakat memilah dari sumber.

“Yang paling penting bagaimana mengubah habit masyarakat. Masyarakat sudah punya kebiasaan untuk memisahkan sampah dari hulu,” ujarnya.

Pemilahan dari hulu membuat proses hilir lebih mudah. Sampah organik dan anorganik tidak bercampur.

Heri menegaskan pengelolaan sampah tidak sepenuhnya beban pemerintah. Pelaku usaha komersial harus kelola sampah sendiri.

“Kalau yang komersial harus bisa mengelola sampah sendiri. Di kita belum bisa sendiri,” tegasnya.

Sampah organik bisa diolah jadi kompos. Di Bali, jika warga tidak memilah ada sanksi sosial, sehingga terbentuk budaya kelola sampah.

Ia juga sentil program Makan Bergizi Gratis (MBG) jadi beban baru.

“Belum lagi masalah MBG. Harusnya mengelola sampah sendiri karena jadi beban baru,” ujarnya.

Jangka pendek, dorong optimalisasi Mesin Olah Runtah (Motah) dan TPST.
(Ade Suhendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *