Editorial “UDAH TERKABUL KAK”: Tiga Kata yang Menampar Kita Semua

Delapan jam. Almarhum Yurizal Tri Chaerawan menunggu kepastian ruang rawat sambil menahan sakit. Statusnya pasien BPJS. Sampai akhir, ia tetap memilih adab: tidak “spill” nama rumah sakit, tidak memaki.

Lalu muncullah dua komentar yang viral. Seorang yang mengaku perawat menulis: “Potong aja kak nadinya nanti juga cepet”. Seorang dokter menulis: “Noh ruang jenazah selalu kosong”. Bercanda tentang kematian, di saat keluarga sedang berjuang.

Di titik paling sakit, adiknya Maulidya Yusthika Chaerani justru memilih jalan paling sulit: memaafkan.
Kepada si perawat ia tulis: “semoga kakak sehat selalu”.
Kepada si dokter ia jawab: “UDAH TERKABUL KAK, semoga kamu diberkati yaa”.

Tiga kata itu lebih tajam dari seribu makian. Ia tidak membalas api dengan api. Ia memilih jadi air.

Kasus ini bukan soal BPJS vs umum. Ini soal kemanusiaan. Sumpah tenaga kesehatan adalah menolong, bukan melukai dengan candaan. Etika tidak bisa ditawar, apalagi di IGD. Di sisi lain, medsos kita juga sedang sakit. Jari kita terlalu cepat menghakimi, terlalu malas mendoakan.

Permintaan maaf sudah disampaikan. Tapi maaf tidak bisa mengembalikan 8 jam penantian. Tidak bisa menghapus luka.

Pelajaran dari Yurizal dan Maulidya sederhana: bersikaplah layak sebagai manusia. Untuk nakes, jaga lisan. Untuk kita, jaga jari. Untuk sistem, pastikan tidak ada lagi pasien menunggu kepastian karena statusnya.

Al-Fatihah untuk Yurizal. Peluk untuk Maulidya. Terima kasih sudah mengajari kita arti ikhlas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *