DJABARPOS.COM, Bandung – Universitas Padjadjaran (Unpad) mengukuhkan delapan Guru Besar baru dari lima fakultas dalam Sidang Terbuka di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (14/4/2026). Pengukuhan ini menegaskan kontribusi akademik Unpad dalam menjawab berbagai isu strategis, mulai dari kecerdasan buatan (AI), kesehatan, hingga tata kelola global.
Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita, secara resmi membuka prosesi pengukuhan yang diikuti para Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Keperawatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Komunikasi, serta Fakultas Peternakan. Kegiatan diawali dengan pengantar Ketua Dewan Profesor, Prof. Atwar Bajari, serta pembacaan curriculum vitae oleh Sekretaris Dewan Profesor, Prof. Iman Hernaman.
Delapan Guru Besar yang dikukuhkan yakni Prof. Fahmi Oscandar, Prof. Anne Agustina Suwargiani, Prof. Iyus Yosep, Prof. Maria Komariah, Prof. R. Dudy Heryadi, Prof. Herijanto Bekti, Prof. Jenny Ratna Suminar, dan Prof. Lilis Suryaningsih, masing-masing menyampaikan orasi ilmiah sesuai bidang keilmuannya.
Dalam paparannya, Prof. Fahmi Oscandar memperkenalkan konsep radioidentifikasi sebagai paradigma baru identifikasi individu berbasis radiologi oral dan kranio-maksilofasial serta odontologi forensik. Pendekatan ini mengintegrasikan teknologi CBCT dan kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan akurasi identifikasi serta mendukung penegakan hukum. “Radioidentifikasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menjaga martabat dan kepastian identitas individu,” ujarnya.
Isu kesehatan turut menjadi sorotan. Prof. Anne Agustina Suwargiani menekankan pentingnya penguatan promosi kesehatan gigi berbasis pelayanan primer dan komunitas. Menurutnya, tingginya kasus karies dan keterbatasan akses layanan masih menjadi tantangan di Indonesia, sehingga diperlukan pendekatan preventif berbasis literasi, pemberdayaan masyarakat, dan integrasi program kesehatan.
Sementara itu, Prof. Iyus Yosep mengangkat persoalan cyberbullying pada remaja melalui konsep Triple-P e-Parenting yang menempatkan keluarga sebagai garda utama perlindungan kesehatan mental. Di sisi lain, Prof. Maria Komariah menegaskan pentingnya pendekatan Integrative Holistic Nursing untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan dalam praktik keperawatan.
Dari perspektif global, Prof. Dudy Heryadi menyoroti dampak perkembangan AI dan meningkatnya unilateralisme negara besar yang berpotensi memicu krisis tata kelola global. Ia menekankan perlunya sistem kerja sama internasional yang lebih adil dan inklusif. Senada, Prof. Herijanto Bekti menegaskan pentingnya kepemimpinan publik yang adaptif dalam menghadapi era digital governance dengan menggabungkan inovasi teknologi dan kearifan lokal.
Dalam bidang komunikasi, Prof. Jenny Ratna Suminar menegaskan peran strategis komunikasi kesehatan dalam membangun literasi, kepercayaan, serta menangkal informasi keliru di era digital. Sementara itu, Prof. Lilis Suryaningsih memperkenalkan inovasi pengolahan daging melalui teknik marinasi berbahan alami yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.
Pengukuhan ini tidak hanya menjadi penanda pencapaian akademik, tetapi juga memperkuat peran Unpad dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi berbagai tantangan masyarakat di tingkat nasional maupun global. (Arsy/Nino)

