Kisah Prof. Eka Cahya Prima Bangun Riset Energi Surya dari Laboratorium Kampus UPI

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 82

DJABARPOS.COM, Bandung – Di balik pengukuhan sebagai Guru Besar termuda bidang fisika, Eka Cahya Prima menyimpan perjalanan panjang dalam membangun riset energi terbarukan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Bertahun-tahun ia menghabiskan waktu di laboratorium untuk meneliti material energi surya, menulis publikasi ilmiah, membimbing mahasiswa, hingga membangun ekosistem riset berbasis energi terbarukan.

Prof. Eka mengembangkan Laboratorium Material Energi Surya bersama mahasiswa di UPI sebagai ruang kolaborasi riset dan pembelajaran.

Di laboratorium tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat langsung dalam eksplorasi material, fabrikasi sel surya, hingga pengujian teknologi energi masa depan.

Perjalanan akademiknya dimulai dari Pendidikan Fisika UPI sebelum melanjutkan studi magister dan doktor di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB).

Konsistensi risetnya menghasilkan lebih dari 70 publikasi internasional bereputasi serta berbagai kolaborasi dengan institusi nasional maupun internasional.

Meski dikenal sebagai ilmuwan muda produktif, Prof. Eka mengaku perjalanan menuju Guru Besar bukan tanpa tantangan.

“Di waktu yang sama, saya harus membesarkan anak-anak. Selain itu, tantangan birokrasi juga luar biasa untuk mencapai jenjang jabatan akademik tertinggi,” katanya.

Selain aktif meneliti, Prof. Eka juga berupaya membangun ekosistem riset nasional melalui pengembangan material lokal untuk penelitian sel surya. Beberapa produk material yang dikembangkannya bahkan telah digunakan peneliti di berbagai institusi seperti BRIN dan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Menjelang akhir wawancara pada Kamis (7/5/2026), Prof. Eka menyampaikan pesan kepada generasi muda agar terus berkarya dan berinovasi.

“Pesan saya untuk generasi muda adalah jangan pernah berhenti berkarya. Walaupun kita berada dalam kondisi keterbatasan, bukan berarti kita tidak bisa berinovasi untuk negeri ini,” tuturnya. (Arsy)

Baca Juga : UPI Kukuhkan 14 Guru Besar, Perkuat Reputasi dan Daya Saing Global Perguruan Tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *