Prestasi Disingkirkan, Kedekatan Dipertahankan

Oleh : Roni Maulana Arsy (Jurnalis Media Djabar Pos)

Di negeri ini, bekerja keras kadang belum cukup untuk dipertahankan.
Sebab dalam banyak keadaan, kedekatan sering kali lebih menentukan daripada prestasi.

Ada orang-orang yang mengabdi dalam diam. Datang paling pagi, pulang paling akhir, memikirkan bagaimana pelayanan bisa lebih cepat, bagaimana program benar-benar menyentuh masyarakat, dan bagaimana amanah jabatan dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Mereka tidak sibuk membangun pencitraan. Tidak pandai mencari perhatian. Tidak menghabiskan waktu menjaga lingkaran pertemanan kekuasaan. Mereka hanya percaya satu hal: kerja keras dan hasil nyata seharusnya menjadi ukuran utama.

Namun kenyataan tidak selalu berjalan seadil itu.

Saat pejabat yang bekerja dengan hati justru harus tersingkir, sementara mereka yang minim terobosan tetap bertahan karena faktor kedekatan, publik tentu berhak kecewa. Apalagi ketika jabatan terasa lebih dipengaruhi hubungan personal, kedekatan emosional, atau ikatan masa lalu dibanding rekam jejak dan hasil kerja nyata.

Ironisnya, masyarakat sebenarnya bisa melihat perbedaannya. Ada pejabat yang benar-benar turun ke lapangan, mendengar keluhan masyarakat, memperbaiki pelayanan, dan memastikan program berjalan. Namun ada pula yang lebih sering terlihat dalam agenda seremonial, perjalanan dinas, rapat formal, dan aktivitas pencitraan tanpa dampak yang benar-benar terasa.

Sementara sebagian orang sibuk bekerja di lapangan, sebagian lainnya justru lebih sibuk menjaga kedekatan di ruang-ruang kekuasaan.

Di situlah luka birokrasi mulai terlihat.

Bukan semata soal pergantian jabatan, melainkan tentang hilangnya harapan orang-orang yang masih percaya bahwa pengabdian akan dihargai secara adil. Sebab bagi banyak aparatur yang bekerja serius, penghargaan terbesar bukan sekadar posisi, tetapi keyakinan bahwa sistem masih memiliki kejujuran.

Sayangnya, ketika prestasi tidak lagi menjadi ukuran utama, perlahan semangat itu mulai runtuh.

Ada orang-orang yang pernah bekerja penuh idealisme, tetapi akhirnya memilih diam. Mereka mulai bekerja sekadarnya. Tidak lagi memiliki keberanian untuk berinovasi karena merasa hasil kerja belum tentu menentukan masa depan. Yang dianggap penting justru kedekatan, jaringan, dan kemampuan menjaga hubungan dengan kekuasaan.

Padahal kerugian dari budaya seperti ini tidak berhenti pada satu atau dua jabatan. Dampaknya jauh lebih besar: bangsa ini perlahan kehilangan orang-orang terbaiknya.

Ketika kedekatan lebih dihargai daripada kemampuan, banyak generasi muda akhirnya belajar bahwa kompetensi bukan lagi hal utama. Orang mulai percaya bahwa relasi lebih penting daripada kualitas diri. Akibatnya, semangat untuk belajar, bekerja keras, dan berinovasi perlahan melemah.

“Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Negeri ini hanya terlalu sering memenangkan orang dekat.”

Budaya seperti ini juga membuat birokrasi kehilangan daya hidupnya. Yang dipelihara bukan profesionalisme, tetapi loyalitas kelompok. Orang berlomba mencari koneksi, bukan memperbaiki kualitas kerja. Dalam jangka panjang, pelayanan publik ikut menjadi korban. Program berjalan lambat, keputusan tidak efektif, dan masyarakat akhirnya harus menerima pelayanan yang jauh dari harapan.

Padahal rakyat tidak pernah peduli siapa dekat dengan siapa.

Masyarakat hanya ingin dilayani dengan baik. Mereka ingin pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang mudah, bantuan yang tepat sasaran, serta pemimpin yang benar-benar hadir menyelesaikan persoalan.

Karena itu, jabatan publik seharusnya tidak menjadi ruang balas jasa ataupun simbol kedekatan kelompok tertentu. Jabatan adalah amanah yang seharusnya diberikan kepada mereka yang mampu bekerja, memiliki integritas, dan terbukti menghadirkan manfaat nyata.

Bangsa yang besar tidak dibangun oleh hubungan pertemanan, tetapi oleh penghargaan terhadap kemampuan, kejujuran, dan kerja nyata. Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa institusi yang dipenuhi orang-orang kompeten akan tumbuh lebih kuat dibanding mereka yang hanya bertahan karena kedekatan.

Jika orang-orang berprestasi terus disingkirkan, maka yang hilang bukan hanya rasa keadilan di internal birokrasi. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem itu sendiri.

“Yang paling menyakitkan bukan ketika orang baik disingkirkan, tetapi ketika ketidakadilan mulai dianggap biasa.”

Dan di titik itu, yang runtuh bukan hanya semangat aparatur.
Yang runtuh adalah kepercayaan.

Karena pada akhirnya, birokrasi yang sehat dibangun oleh prestasi, bukan oleh kedekatan dan nostalgia pertemanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *