DJABARPOS.COM, Kuala Lumpur — Duka menyelimuti keluarga pekerja migran Indonesia setelah insiden kapal di perairan Perak, Malaysia, menelan banyak korban jiwa. Pemerintah Indonesia kini mempercepat langkah pendampingan sambil menelusuri identitas para korban yang belum dikenali.
KBRI Kuala Lumpur memastikan jumlah WNI meninggal dunia mencapai 16 orang. Data itu diperoleh dari koordinasi dengan Rumah Sakit Teluk Intan yang menangani korban pascakejadian.
Kasus ini ikut menyeret perhatian aparat Malaysia. Selain proses evakuasi dan identifikasi, kepolisian setempat juga masih memeriksa lima WNI yang diduga terkait jaringan pengiriman migran ilegal.
Di tengah situasi itu, KBRI Kuala Lumpur membuka komunikasi intensif dengan berbagai lembaga Malaysia sejak awal laporan diterima pada 11 Mei 2026. Mulai dari Polis Diraja Malaysia, Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia, hingga otoritas kesehatan dan kepolisian wilayah Perak ikut terlibat dalam penanganan kasus.
Pendataan korban selamat menjadi salah satu fokus utama.
Sebanyak 18 WNI yang berhasil selamat sudah ditemui langsung pihak KBRI untuk pemeriksaan identitas dan pendalaman informasi kejadian di laut tersebut. Mereka berasal dari sejumlah daerah berbeda seperti Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Banten, NTB, NTT, dan Sulawesi Tenggara.
Kondisi para korban selamat dilaporkan stabil.
“Seluruh WNI yang selamat dalam kondisi baik dan sehat,” tulis KBRI Kuala Lumpur dalam keterangannya.
Langkah berikutnya kini tertuju pada proses identifikasi jenazah. KBRI bekerja sama dengan Polri guna mencari keluarga korban dan mengambil sampel DNA agar identitas korban dapat segera dipastikan.
Pemerintah RI menyatakan pemantauan dilakukan terus-menerus, termasuk memastikan keluarga korban memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan penanganan kasus.
KBRI Kuala Lumpur juga meminta masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga atau memiliki informasi terkait insiden ini agar segera menghubungi hotline pelindungan di nomor +60 17-668 8032. (Arsy)

