DJABARPOS.COM, Jakarta – Penanganan pascabencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai memasuki tahap pemulihan permanen. Setelah fase tanggap darurat dan masa transisi berjalan, pemerintah kini mempercepat program rehabilitasi dan rekonstruksi hingga 2028.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan tahap rehab-rekon menjadi fokus baru pemerintah untuk memulihkan wilayah terdampak secara menyeluruh.
“Sekarang kita akan melakukan proses menuju pemulihan permanen. Dari tiga tahapan itu, tanggap darurat, transisi, kemudian kita masuk masa menuju permanen, kita namakan rehab-rekon, dan ini kuncinya adalah Renduk,” kata Tito usai rapat koordinasi Satgas PRR bersama Satgas Galapana DPR RI di Kompleks DPR RI, Minggu (25/5).
Rencana Induk atau Renduk pemulihan disusun sebagai dasar pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di kawasan terdampak bencana. Dokumen itu memuat 11.512 kegiatan lintas sektor untuk periode 2026–2028.
Program tersebut mencakup pembangunan infrastruktur sungai, jalan, jembatan, sekolah hingga hunian tetap bagi masyarakat terdampak.
Tito menegaskan pembangunan rumah permanen menjadi prioritas pada tahap awal agar warga tidak terlalu lama tinggal di hunian sementara maupun tenda pengungsian.
Sebelumnya, pemerintah lebih dulu menjalankan fase tanggap darurat dengan melibatkan kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah.
“Tahapan pertama setelah ada bencana adalah tanggap darurat. Itu langsung komando dari Bapak Presiden, semua kementerian/lembaga bergerak, pemerintah daerah semua bergerak dan itu termitigasi dengan cukup baik,” ujarnya.
Pemerintah juga mengklaim sejumlah layanan dasar mulai kembali normal, termasuk listrik, internet, distribusi BBM, layanan kesehatan, hingga akses jalan nasional di wilayah terdampak. (Arsy)

