DJABARPOS.COM, Bandung – Suasana tegang menyelimuti Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat di Jalan Rajiman, Kota Bandung, Senin (8/6/2026). Ratusan wali murid memadati area kantor sejak pagi setelah sistem SPMB 2026 memicu polemik akibat perubahan nilai seleksi yang disebut terjadi secara mendadak.
Kerumunan orang tua siswa tampak memenuhi halaman hingga area pelayanan sambil membawa berkas pendaftaran dan telepon genggam berisi tangkapan layar nilai seleksi anak mereka. Sejumlah wali murid terlihat melontarkan protes dan meminta penjelasan langsung dari pihak Disdik Jabar.
Mereka mempertanyakan proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 yang dinilai tidak transparan dan membingungkan, terutama terkait perubahan nilai serta mekanisme algoritma pada jalur Sekolah Maung dan Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB).
Polemik dunia pendidikan di Jawa Barat sendiri bukan kali pertama terjadi. Pada 2025 lalu, kebijakan PAPS yang memperbolehkan satu rombongan belajar diisi hingga 50 siswa sempat memicu kehebohan dan kritik dari berbagai pihak. Kini, pada pelaksanaan SPMB 2026, sistem Sekolah Maung kembali menjadi sorotan publik karena dinilai menimbulkan kebingungan di kalangan wali murid.
Salah seorang wali murid, Hendri Hidayat, mengaku kecewa lantaran nilai anaknya berubah drastis saat proses verifikasi berlangsung.
Menurut Hendri, anaknya sempat memperoleh nilai 369 poin pada jalur prestasi non-akademik berkat raihan olahraga gulat tingkat daerah hingga nasional. Namun, meski berada di atas ambang batas, anaknya justru dinyatakan tidak lolos seleksi.
“Awalnya nilainya aman, tapi tiba-tiba berubah dan akhirnya gugur,” kata Hendri dengan nada kecewa.
Ia menjelaskan, saat pendaftaran dialihkan ke jalur PCMB, nilai tersebut kembali turun menjadi 297 poin. Panitia disebut menyampaikan perubahan itu dipengaruhi sistem algoritma otomatis dan masih dalam tahap verifikasi ulang.
Tidak hanya soal nilai, sejumlah orang tua siswa lulusan luar provinsi juga mengaku kesulitan membuat akun pendaftaran lanjutan akibat minimnya informasi teknis dari pihak sekolah maupun operator.
Situasi di lokasi sempat memanas ketika beberapa wali murid meminta kepastian terkait mekanisme seleksi yang dianggap berubah-ubah. Sejumlah petugas tampak berupaya menenangkan massa dan mengarahkan orang tua untuk menyampaikan aduan melalui layanan pengaduan resmi.
Program Sekolah Maung sendiri menjadi salah satu jalur favorit dalam SPMB Jawa Barat tahun ini. Tingginya jumlah pendaftar membuat persaingan masuk sekolah unggulan semakin ketat.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya menyatakan pelaksanaan SPMB dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel melalui sistem daring. Disdik Jabar juga membuka layanan pengaduan bagi masyarakat yang mengalami kendala selama proses pendaftaran.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Disdik Jabar belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut. (Arsy)

