DJABARPOS.COM, Jakarta – Aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat perlahan mulai kembali bergerak. Pemerintah menyebut akses konektivitas menjadi salah satu fokus utama dalam masa transisi pascabencana.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan seluruh jalan nasional kini sudah kembali terhubung meski sejumlah infrastruktur masih bersifat sementara.
Menurut dia, pemerintah menggunakan berbagai jenis jembatan darurat agar mobilitas masyarakat tidak lumpuh terlalu lama.
“Jembatan nasional juga baik, terhubung, meskipun temporer. Ada yang menggunakan Bailey, jembatan perintis, Armco, dan jembatan gantung, tapi fungsional untuk mobilitas,” ujar Tito dalam rapat koordinasi Satgas PRR bersama Satgas Galapana DPR RI di Kompleks DPR RI, Minggu (25/5).
Selain konektivitas, pemerintah juga mulai memulihkan layanan dasar lain yang sempat terganggu akibat bencana. Pasokan listrik, distribusi BBM, jaringan internet hingga layanan kesehatan disebut mulai kembali berjalan.
Di sektor pendidikan, pemulihan masih terus dilakukan. Dari sekitar 4.922 sekolah terdampak, sebagian besar sudah kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar setelah dilakukan perbaikan.
Meski begitu, sebagian siswa masih belajar di kelas darurat, tenda, maupun menumpang di sekolah lain, khususnya di daerah yang masih membutuhkan relokasi permukiman.
Jumlah warga yang tinggal di tenda pengungsian juga mulai berkurang seiring perbaikan fasilitas dasar di lapangan.
Pemerintah kini menyiapkan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi permanen melalui Rencana Induk pemulihan yang akan dijalankan secara bertahap hingga 2028. (Arsy)

