Negara Bisa Ngebut, Sekolah Masih Nunggu Atap

DJABARPOS.COM, Bandung – Pemandangan kontras kembali terlihat. Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan gerai Koperasi Desa Merah Putih bisa berdiri puluhan ribu unit dalam setahun. Sementara itu, 1,2 juta ruang kelas di 195 ribu sekolah masih tercatat rusak sedang atau berat, November 2025.

Data Badan Gizi Nasional mencatat, dari 190 SPPG pada Januari 2025, jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 28 ribu unit pada Mei 2026 untuk melayani 55,1 juta penerima manfaat. Kopdes Merah Putih juga dikebut. Agustus 2025 ditarget 80 ribu koperasi terbentuk. Juni 2026, 12.533 unit fisiknya sudah selesai.

Kemampuan negara bergerak cepat terbukti. Aturan disederhanakan, desain diseragamkan, anggaran diturunkan, dan pantauan dilakukan tiap bulan. Hambatan teknis diselesaikan sambil jalan.

Namun kecepatan itu belum berpindah ke sekolah. Kemendikdasmen mencatat baru 16.167 satuan pendidikan direvitalisasi pada 2025 dengan anggaran Rp16,9 triliun. Target 2026 naik jadi 71.744 sekolah. Angka itu naik, tapi masih jauh dari antrean 195 ribu sekolah rusak.

Padahal anak yang menerima porsi MBG adalah anak yang sama yang belajar di kelas bocor dan menyeberang jembatan rapuh. Bagi negara datanya beda kementerian. Bagi anak, itu satu rangkaian hidup.

Administrasi memang berbeda. Dapur MBG bisa pakai modul seragam. Sekolah harus urus status tanah, DED, dan KBM tetap berjalan saat renovasi. Namun jika hambatan program unggulan bisa dicari solusinya, persoalan sekolah seharusnya diperlakukan dengan semangat yang sama.

Membangun masa depan bukan hanya soal fasilitas baru yang mudah diresmikan. Ia juga tentang memastikan setiap anak belajar dengan aman dan bermartabat. Sebab tanpa ruang kelas layak, mimpi Indonesia Emas hanya akan bocor bersama atap sekolah.(**)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *