Dari Mahasiswa hingga Ojol, Ini Kisah Warga Bandung yang Menemukan Harapan Lewat Padat Karya

DJABARPOS.COM, Bandung – Di balik dimulainya Program Padat Karya Tematik 2026, tersimpan berbagai cerita warga yang berharap memperoleh penghasilan tambahan sekaligus tetap produktif di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Salah satunya datang dari Dava (23), mahasiswa semester akhir asal Kelurahan Kacapiring yang memilih bergabung dalam program tersebut di sela-sela penyelesaian kuliahnya.

Baginya, program padat karya tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berdampak langsung terhadap kebersihan lingkungan.

“Program ini sangat membantu warga. Lingkungan jadi lebih bersih dan terawat. Selain itu, warga juga mendapatkan manfaat ekonomi. Semoga program seperti ini terus ada ke depannya,” ujar Dava.

Cerita serupa datang dari Sri (62), seorang ibu rumah tangga asal Kacapiring yang melihat program tersebut sebagai peluang bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan tetap.

“Program ini bagus untuk masyarakat, terutama yang belum mendapatkan pekerjaan secara mantap. Mudah-mudahan ke depan jumlahnya bisa lebih banyak lagi,” katanya.

Sementara itu, Yoga, seorang pengemudi ojek online asal Kelurahan Cibangkong, mengaku kehadiran program tersebut memberikan rasa aman karena adanya tambahan pendapatan yang lebih pasti.

“Kalau narik ojol kan kadang ramai, kadang sepi. Dengan padat karya ini ada tambahan penghasilan yang jelas. Apalagi ada perlindungan BPJS dan asuransi kecelakaan kerja, jadi lebih tenang saat bekerja,” ungkapnya.

Menurut Yoga, program semacam ini sangat membantu warga yang memiliki penghasilan tidak menentu dari pekerjaan harian.

Ia berharap cakupan program ke depan bisa diperluas sehingga lebih banyak warga merasakan manfaatnya.

Program Padat Karya Tematik 2026 sendiri difokuskan pada kegiatan kebersihan lingkungan dan penataan wilayah di sejumlah kelurahan Kota Bandung.

Selain memberikan penghasilan tambahan bagi warga, program ini juga diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman.

Bagi banyak peserta, padat karya bukan sekadar pekerjaan sementara, melainkan kesempatan untuk tetap bergerak, berkarya, dan menjaga optimisme menghadapi masa depan. (Nino)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *