Unisba Fakultas Psikologi Menggelar Konseling Gratis di Dago, Ajak Warga Bangun Kepedulian Dilingkungan

DJABARPOS.COM, Kab Bandung – Kepedulian terhadap kesehatan mental dan pembentukan karakter masyarakat terus mendapat perhatian dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba). Melalui Program Pendidikan Profesi Psikolog, Unisba menghadirkan layanan konseling gratis dan psikoedukasi bagi masyarakat di Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi sekaligus memperoleh pendampingan psikologis secara langsung.
Warga dari sejumlah RW di Kelurahan Dago terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Tidak hanya layanan konseling individual, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya kepedulian, rasa hormat, tanggung jawab, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Ketua PKM Pendidikan Profesi Psikolog Unisba, Muhammad Zidane Al Hidayat, S.Psi., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya akademisi dan calon psikolog untuk hadir secara nyata di tengah masyarakat.
Menurut Zidane, kegiatan tidak dirancang secara spontan. Sebelumnya, tim melakukan asesmen awal melalui pre-test untuk mengetahui berbagai keluhan dan kebutuhan masyarakat di wilayah Dago.

“Pengabdian ini sebelumnya diawali dengan pre-test terkait keluhan masyarakat. Dari hasil tersebut, kami menemukan beberapa persoalan, di antaranya berkaitan dengan kurangnya kepekaan terhadap lingkungan, respect, serta rasa tanggung jawab,” ujar Zidane.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk menyusun kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan psikologis, tetapi juga memberikan penguatan terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat.

Zidane menjelaskan, terdapat dua bentuk utama layanan dalam PKM tersebut, yakni konseling dan psikoedukasi.
Psikoedukasi diberikan kepada masyarakat secara luas, terutama generasi muda. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pentingnya empati, kepedulian, rasa hormat, dan tanggung jawab dalam kehidupan sosial.

Sementara itu, layanan konseling terbuka bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia. Sebagian peserta yang mengikuti konseling diketahui berusia di atas 35 tahun dan datang dengan beragam persoalan, termasuk masalah keluarga dan kehidupan rumah tangga.

“Untuk konseling bisa berbagai umur. Kebetulan yang hadir banyak yang berusia di atas 35 tahun, sehingga berbagai keluhan, termasuk persoalan rumah tangga, dapat kami terima dan kami dampingi,” katanya.

Menurut Zidane, program tersebut dibangun melalui tiga aspek penting, yakni pengetahuan, sikap, dan perilaku.
Masyarakat diharapkan terlebih dahulu memahami persoalan yang dihadapi. Setelah itu, pemahaman tersebut diharapkan tumbuh menjadi sikap positif dan kepedulian, yang kemudian diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Jargon kami adalah Peduli, Beraksi Nyata. Harapannya masyarakat tidak hanya melihat atau mengetahui persoalan, tetapi juga memiliki kepedulian dan mampu melakukan tindakan nyata,” tutur Zidane.

Dalam layanan konseling, setiap peserta memperoleh kesempatan berkonsultasi secara individual dengan durasi sekitar 45 menit. Sementara kegiatan psikoedukasi berlangsung dengan dua materi utama hingga sekitar pukul 12.00 WIB.

Zidane berharap pendampingan tersebut dapat membantu masyarakat menjadi lebih adaptif dalam menghadapi persoalan kehidupan. “Harapannya setelah konseling masyarakat bisa lebih adaptif, terutama dari pola pikir dan cara memahami persoalan. Dengan begitu, mereka dapat menghadapi berbagai persoalan dengan lebih baik,” ujarnya.

Kegiatan PKM tersebut melibatkan 12 konselor yang terdiri atas psikolog dan tenaga profesional dari Pendidikan Profesi Psikolog Unisba. Sekitar delapan dosen yang juga memiliki latar belakang psikolog turut terlibat dalam memberikan pendampingan.

Para konselor yang terlibat antara lain Dr. Eneng Nurlaili Wangi, M.Psi., Psikolog; Dr. Endah Nawangsih, M.Psi., Psikolog; Anna Rozana, S.Psi., M.Psi., Psikolog; Dr. Hedi Wahyudi, M.Psi., Psikolog; Dr. Siti Qodariah, M.Psi., Psikolog; Suhana, S.Psi., M.Psi., Psikolog; Rizka Hadian Permana, S.Psi., M.Psi., Psikolog; Tia Inayatillah, S.Psi., M.Psi., Psikolog; Elfreda Haura Fawwaz, S.Psi.; Ismayalia Jannah, S.Psi.; Aulia Rahmadani, S.Psi.; serta Mohammad Rizal Ansori, S.Psi.
Sementara panitia dipimpin Muhammad Zidane Al Hidayat, S.Psi., sebagai ketua dan Mochamat Kanafi, S.Psi., sebagai wakil ketua.Tim fasilitator terdiri atas Lidzikri, Fadllan, Nazwa, Salsabila, Ummul Atikah, Dyah Rizqi, Ismayalia, Vany, dan Mutia Athaya.

Camat Coblong, Ratna Rahayu Pitriyanti, S.STP., M.Si., yang didampingi oleh Lurah Dago Jusni Giri Susilowati, S.Sos., M.Si., pihaknya  menyambut positif kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar Unisba tersebut.

Menurut Ratna, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang yang sehat bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan sekaligus memperkuat kembali nilai-nilai etika dan kepedulian sosial.

“Dengan adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, mudah-mudahan dapat membangkitkan kembali masyarakat yang memiliki etika yang baik,” kata Ibu Camat Ratna.

Ia menambahkan, berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat dapat menjadi perhatian pemerintah dengan tetap memperhatikan tingkat urgensi, prioritas, dan kebutuhan penanganannya. Ratna juga berharap kegiatan tersebut memberikan ruang kepada masyarakat, khususnya warga Kelurahan Dago, untuk berekspresi secara bijak.

“Semoga dengan adanya PKM atau pengabdian kepada masyarakat ini warga, khususnya di Kelurahan Dago, merasa memiliki wadah untuk dapat berekspresi secara bijak. Bagaimanapun juga, hal tersebut penting dalam pembangunan manusia,” ujarnya.

Ia berharap sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah wilayah dapat terus diperkuat sehingga kegiatan serupa tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Ketua Prodi Pendidikan Profesi Psikolog Unisba, Dr. Eneng Nurlaili Wangi, M.Psi., Psikolog, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari asesmen yang sebelumnya dilakukan terhadap pemuda di wilayah setempat.

Hasil asesmen menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperkuat karakter positif, khususnya kepedulian terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

“Program ini merupakan bentuk bakti dan sumbangan nyata kepada masyarakat. Kami ingin mendorong bagaimana karakter positif, terutama kepedulian sosial atau prososial, dapat tumbuh di kalangan pemuda,” ujar Dr. Eneng Nurlaili Wangi, M.Psi

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial turut memengaruhi pola perilaku masyarakat. Dalam situasi tertentu, masih terdapat kecenderungan seseorang lebih dahulu merekam atau menyebarkan sebuah peristiwa di media sosial dibandingkan memberikan pertolongan kepada pihak yang membutuhkan.Karena itu, pendidikan karakter dinilai perlu ditanamkan sejak dini dan diperkuat secara berkelanjutan.

Dr. Eneng Nurlaili Wangi, M.Psi, menilai pemuda memiliki posisi strategis sebagai pelopor perubahan. Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman mengenai respect dan responsibility, yaitu sikap menghargai sekaligus bertanggung jawab terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan berbagai konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

“Relasi kita membutuhkan rasa hormat dan tanggung jawab. Apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan pasti memiliki konsekuensi. Karena itu, kita harus belajar bertanggung jawab,” katanya.

Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, berkata baik, membantu sesama, membaca buku, hingga menjaga lingkungan merupakan bagian dari proses membangun karakter.
“Mulai dari hal kecil. Ketika dilakukan terus-menerus, itu akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah karakter dibangun,” ungkapnya.

Selain edukasi karakter, layanan konseling gratis menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Eneng mengatakan layanan itu diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk berbicara dan berkonsultasi mengenai berbagai persoalan, termasuk kepercayaan diri maupun hubungan sosial.

Dari sejumlah sesi konseling yang dilakukan, secara sementara terlihat adanya peserta yang membutuhkan penguatan rasa percaya diri. Sebagian lainnya mengaku masih merasa sungkan ketika hendak mengingatkan orang lain mengenai sesuatu yang dianggap kurang baik.

Menurut, Dr. Eneng Nurlaili Wangi, M.Psi, bahwa kepedulian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membedakan benar dan salah. Cara menyampaikan kepedulian juga harus diperhatikan agar pesan yang disampaikan tidak justru melukai perasaan orang lain.

“Menegur itu boleh, tetapi caranya harus baik. Bagaimana kita menyampaikan pendapat, bagaimana kita peduli tanpa melukai hati orang lain, tetapi hasilnya tetap optimal. Itu juga perlu dipelajari,” jelasnya.

Kegiatan PKM tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Psikolog Unisba untuk mengimplementasikan ilmu yang mereka peroleh di bangku akademik.

Eneng Nurlaili Wangi, menilai calon psikolog tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial dan pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat.

“Mahasiswa ini calon-calon psikolog. Sekarang bukan hanya budaya bicara, tetapi harus budaya aksi. Ketika mahasiswa dibiasakan melakukan pengabdian, mudah-mudahan semangat ini terus terjaga sampai mereka lulus dan berkontribusi kepada masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai program satu hari. Kolaborasi dengan pemerintah wilayah diharapkan dapat terus dikembangkan melalui program berkelanjutan, termasuk kemungkinan menghadirkan ruang konseling dan penguatan karakter bagi masyarakat.

Gagasan seperti “Unisba Peduli Konseling” diharapkan dapat menjadi bagian dari kontribusi berkelanjutan Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Unisba kepada masyarakat. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *